
Jakarta, Huutoanland Indonesia
—
Wuling Motors
angkat bicara terkait polemik penumpukan ribuan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok yang belakangan menjadi sorotan publik. Perusahaan memastikan sempat mengalami kendala operasional pada awal Juni 2026, namun masalah tersebut telah diselesaikan.
Ricky Christian, Marketing Director Wuling Motors mengatakan pihaknya telah mengetahui informasi tersebut dari pemberitaan media dan langsung melakukan pengecekan bersama tim internal.
“Kami telah memperoleh informasi tersebut melalui rekan-rekan media dan kami telah melakukan pengecekan bersama tim terkait,” kata Ricky melalui pesan singkat, Minggu (21/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ricky menjelaskan pada awal Juni 2026 Wuling memang sempat mengalami gangguan operasional terkait pengangkutan kontainer. Namun menurut dia jumlah kontainer yang terdampak tidak terlalu banyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Adapun kami dapat sampaikan, memang pada awal bulan Juni ini kami sempat mengalami gangguan operasional perihal pengangkutan kontainer dengan jumlah yang tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Meski demikian, Wuling mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secepat mungkin. Ricky bilang seluruh kontainer yang sempat terkendala sudah keluar dari pelabuhan sejak 11 Juni.
“Akan tetapi, kami telah berusaha untuk segera menyelesaikannya dan per tanggal 11 Juni lalu kami sudah menyelesaikan keseluruhan kontainer untuk keluar dari port,” tutur Ricky.
“Kami berharap ini bisa menjadi respons atas pemberitaan yang ada,” kata dia lagi.
Ribuan kontainer sebelumnya dilaporkan menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Hal tersebut ditengarai ulah perusahaan otomotif yang tak kunjung mengeluarkan barangnya, di antaranya BYD dan Wuling.
Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budhi Utama mengatakan penumpukan terjadi bukan karena proses administrasi kepabeanan, melainkan perusahaan importir tidak segera melakukan pengeluaran barang dari pelabuhan tujuan.
“Namun, ketika kontainer-kontainer tersebut sudah mengalami pengeluaran barang, ini masih terjadi penumpukan karena para pelaku tidak dengan segera melakukan pengeluaran,” ujarnya Djaka.
Djaka mengurai bagaimana perusahaan atau pabrikan otomotif memanfaatkan fasilitas, sehingga membiarkan barang yang mereka datangkan agar tidak segera keluar dari area pelabuhan selama tiga hari.
“Contohnya seperti BYD, kemudian dari Wuling, itu masih memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pelabuhan selama tiga hari setelah SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) keluar, bahkan lebih dari dua minggu dia tidak angkat ke luar. Kemarin itu hampir sekitar 10 ribu kontainer yang masih ada di pelabuhan,” jelas Djaka.
(ryh/mik)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Huutoanland]
Baca lagi: CORTIS Coba Istilah Viral Indonesia, dari ‘Izin’ sampai ‘Jujur Janggal
Baca lagi: Profil Kiper Eloy Room, Pahlawan Curacao yang Buat Rekor Memukau
Baca lagi: Lagi ‘Cutting Sugar’? Cek Gula Tersembunyi Ini di Produk Favoritmu




2 Responses
Konten yang sangat edukatif dan menambah pengetahuan. Saya mendapatkan banyak pelajaran baru yang dapat memperluas pemahaman mengenai topik yang dibahas. Terima kasih atas artikel yang luar biasa ini. Jangan lupa mengunjungi http://linkrankseo.shop/sdma2rz-sitewide-blogroll-vs-single-post-blogroll-tech-money-site-better/.
cobain main di situs genting138 salah satu situs slot gacor terpercaya. akses genting138 sekarang. slot depo qris 5k