
Jakarta, Huutoanland Indonesia
—
Transisi menuju kendaraan listrik atau electric vehicle (
EV
) di Indonesia dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama bagi konsumen yang baru pertama kali membeli mobil.
Praktisi otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai mobil listrik memang menawarkan sejumlah keunggulan dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
Namun di sisi lain, masih ada kekhawatiran yang membuat masyarakat belum sepenuhnya yakin beralih ke EV.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bagi
first-time car buyer
, transisi ke EV jelas akan menghadirkan proposisi nilai yang kompleks ya. Dari sisi kenyamanan, EV unggul dalam akselerasi responsif, kabin minim getaran, biaya operasional yang hanya sepertiga dari ICE konvensional dan biaya perawatan yang lebih rendah dibanding ICE konvensional,” kata dia melalui pesan singkat, Minggu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya keunggulan tersebut menjadi daya tarik utama kendaraan listrik, khususnya di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa waktu terakhir.
Meski begitu, ia mengatakan faktor psikologis masih menjadi hambatan besar dalam proses adopsi EV di Indonesia.
Range anxiety
atau kekhawatiran kendaraan kehabisan daya di tengah perjalanan disebut masih menjadi pertimbangan utama konsumen. Terlebih, infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di sejumlah daerah dinilai belum merata.
Jumlah SPKLU aktif per Desember 2025 baru mencapai 4.778 unit di 3.093 lokasi.
Sementara itu, populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 mencapai 358.205 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 236.451 unit sepeda motor listrik, 119.638 unit mobil penumpang listrik, 798 unit bus listrik, 537 kendaraan komersial listrik, serta kategori lainnya.
“Tetapi aspek keamanan psikologis masih menjadi tantangan seperti misalnya
range anxiety
, dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya,” ujarnya.
Selain itu, isu keselamatan baterai dan nilai jual kembali kendaraan listrik juga menjadi perhatian masyarakat sebelum memutuskan untuk membeli.
“Kekhawatiran soal keselamatan baterai pada kondisi ekstrem serta harga kendaraan bekasnya yang anjlok parah tampaknya belum sepenuhnya teratasi di konteks Indonesia,” ungkapnya.
(ryh/fea)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Huutoanland]
Baca lagi: Rico Waas Resmikan Gedung Pastoral, Fokus Pembinaan Masa Depan Anak
Baca lagi: 11 Bayi di Rumah Bidan di Sleman Diduga Hasil Hubungan Luar Nikah
Baca lagi: Nadiem: Keputusan Pengadaan Chromebook Selesai di Level Dirjen



